Sabtu, 29 Agustus 2015

Sebuah Ironi

Selama bertahun-tahun
Ketakutanlah yang mengikat manusia
Kesendirian.

Sebuah Ironi,
Menjebak, merasuk
Hingga mendarah daging
Lalu,
Mengantarkan aku
Padamu.

Kewarasan aku patut dipertanyakan:
Apakah aku ada?
Ataukah - Aku adalah sebuah eksistensi
Yang muncul karena alasan
Yang telah tercatat
Dalam hati masing-masing insan,
Khususnya kamu.

Detak jantung dan jam besar itu kini tak beda:
Gemetaran ketakutan,
Akan kehilangan
Alasan itu:
Sosokmu.

Kumenggelantung di seutas rantai memori
Serpihan ingatan memaksa aku
Untuk menjatuhkan diri

Dulu
Mendengar hentakan kakimu yang menuju kemari
Merupakan lantunan yang terdengar indah:
Melodi penuh rasa menusuk - sunyi namun tak sepi
Seirama suasana hati yang menggema.
Lalu, menampar aku hingga sadar
Bahwa aku: ada!

Namun kini
Menunggu seekor burung untuk berkicau pun
Aku tuli.

***

Kuseruput kopi yang tersisa
Mungkin yang pertama hari ini - atau terakhir?

Ujung Sebuah Benang Merah

Terselip
Diantara letihnya merajut kembali benang merah ini,
Yang menghubungkan aku
Dan kamu, diujung sana
Apakah tali ini terputus?

Ah
Kusutnya benang terajut
Menyadarkanku, siapakah
Aku, menyambung kembali
Benang merah ini yang konon pernah menghubungkan aku
Dan kamu, apakah masih mau menerima
Sosok ini?

Aku sadar,
Diantara beribu benang lainnya
yang jauh lebih kuat, jauh lebih baik
Dari segala aspek
Apakah daya, aku
Tak punya alasan lagi
Untuk menyambungnya

Kini benang ini terputus, bukan!
Karena salahmu, salahku
Karena bahkan tak mampu, untuk
Sekedar menyadarkanmu, bahwa sulit mengakhiri rangkaian kata
Yang tak kunjung berakhir, serta
Rajutan benang merah, dulu
menghubungkan aku
Dan kamu, apakah masih peduli
Aku?